Rahasia Rumoh Aceh Tahan Gempa


Sebagai wilayah yang berada di antara pertemuan dua lempeng bumi (Indo-Australia dan Eurasia) serta patahan alias sesar semangko, Aceh sejak dulu memang rawan bencana. Berbagai solusi pun dimunculkan untuk menggulangi hal itu, salah satunya Rumoh Aceh yang telah ada sejak lama. Rumoh Aceh adalah sebuah upaya mitigasi yang dirancang moyang mereka untuk mengurangi korban jiwa.

Pengurus Bidang Khazanah Adat dan Budaya Majelis Adat Aceh (MAA), Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan, sebenarnya sejak dulu masyarakat Aceh sudah diperkenalkan cara bersahabat dengan bencana, salah satunya melalui Rumoh Aceh. Sayangnya, kearifan lokal tentang mitigasi ini mulai pudar di generasi sekarang.

"Rumoh Aceh sudah ada sejak masa kesultanan dulu. Kita patut mengapresiasi indatu-indatu (moyang) kita dulu yang sudah mempersiapkan rumah tahan bencana," ujar Tarmizi.
Menurutnya, Rumoh Aceh tahan gempa karena tidak menggunakan paku, tapi kayu-kayu rangka bangunan yang diroek atau dipasang saling berkaitan satu sama lain, kemudian dikunci dengan bajoe atau pasak sehingga lebih dinamis dan tahan dari guncangan.

"Belum ada dalam sejarah Aceh, gempa besar yang merobohkan Rumoh Aceh. Berkali-kali digoyang gempa, Rumoh Aceh tetap berdiri tegak," tutur pria yang juga kolektor manuskrip sejarah dan naskah kuno Aceh itu.

Selain tahan gempa dan banjir, Rumoh Aceh juga memudahkan evakuasi saat kebakaran. Itu sebabnya, kata Tarmizi, atap Rumoh Aceh dibuat dari bahan rumbia yang diikat dengan tali rotan. "Saat kebakaran, tinggal digunting rotannya. Atap itu akan roboh semua, mudah menyelamatkan diri."

Berdasarkan analisis struktur, Rumoh Aceh pernah diuji secara laboratorium melalui miniatur kecil dan perhitungan SAP 2.000. Widosari (2010), dalam Local Wisdom-Jurnal Ilmiah Online 'Mempertahankan Kearifan Lokal Rumoh Aceh dalam Dinamika Pasca Gempa dan Tsunami', hasilnya Rumoh Aceh mampu bertahan dari gempa karena struktur utama yang kokoh dan elastis.

"Kunci kekokohan dan keelastisan ini adalah pada hubungan antarstruktur utama yang saling mengunci, hanya dengan pasak dan bajoe, tanpa paku serta membentuk kotak tiga dimensional yang utuh (rigid)," tulisnya.

Keelastisan ini menyebabkan struktur bangunan tak mudah patah, namun hanya terombang-ambing kanan kiri saat gempa, kemudian tegak atau bangunan terangkat ke atas (telikuifaksi) yang selanjutnya jatuh kembali ke tempat semula. Jika bangunan bergeser pun hanya beberapa sentimeter dan dalam keadaan utuh.

"Sebuah fondasi batu utuh yang hanya ditanam sedikit (5 cm) juga memperlentur pergerakan keseluruhan bangunan sesuai dengan pergerakan tanah."

Widosari berkesimpulan, tiga komponen struktur utama yang menjadi pusat kekukuhan bangunan meliputi fondasi (komponen kaki) sebagai pusat beban bangunan besar, kemudian tiang dan balok antartiang (badan) sebagai penyalur beban dari atas dan samping, serta rangka atap (kepala) sebagai penyangga beban elemen paling atas bangunan dari samping atas.

Rumoh Aceh bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa seperti Aceh. Tarmizi menilai rumah ini harus terus dilestarikan sebagai warisan budaya. 
"Rumah ini cocok untuk kita di Aceh yang sering gempa."

Dia berharap ahli bangunan atau arsitektur bisa mencari solusi alternatif bahan bangunan pengganti kayu untuk pembangunan rumoh Aceh. 

"Yang penting kita minta gaya dan arsitektur khas Rumoh Aceh jangan diubah," tuturnya.(Okezone.com)

Komentar